Chocolateva's fruit

try to be usefull person,simplify,share,and smiled ^^

Strawberry Shortcake


    Akhir pekan yang dinanti, pagi disapa gerimis hujan yang meneduhkan. Seorang anak kecil berlari, berputar mengelilingi halaman rumah beralaskan rumput. Si kecil membentangkan kedua tangan dan terus berlari membentuk lingkaran tak beraturan dengan kaki telanjangnya. Tawa lugu senantiasa menghias, sesekali ia pun tersedak oleh air hujan.
Di balik kaca jendela yang berembun, seorang kakak mengamati adik kecilnya yang girang menyambut hujan. Si kakak melukis pola abstrak di jendela itu dengan jari telunjuknya. Ekspresi manyun mewakili rasa kekecewaanya, sesekali ia pun menghela nafas panjang.
Sang Bunda hanya tersenyum melihat kedua putrinya.

“Bunda……”, si kecil berlari mengakhiri pola lingkarannya untuk menuju sang bunda. Suara melengkingnya berakhir dipelukan hangat tempat ia bersarang selama 9 bulan.
“Anak manis, bunda boleh tahu, apa yang hujan katakan pada adek, sampai adek sebegitu girangnya?”,Tangan lembut itu membelai rambut si kecil.
“Iya bunda, kata hujan, setelah ini akan ada pelangi”, rambutnya semakin terlihat panjang ketika ia mendongakkan wajahnya ke arah bunda.
“Mana ada, hujan bisa ngomong. Huuh… dasar anak kecil”, si kakak menanggapi celoteh si kecil sambil berlalu.
“Bunda, tapi kata ayah,setelah hujan biasanya akan ada pelangi”, si kecil tetap mencoba mengulang pemikirannya lagi.
“iya nak, bunda percaya, adek mau sesuatu yang manis? Mau bunda buatkan susu? Ganti baju dulu ya, setelah itu kita sarapan” Kembali tersenyum sambil menuju dapur. Sedangkan si kecil mengikuti langkah bunda sambil terus memastikan bahwa perkataannya dipercaya oleh orang dewasa.
“Bunda, kata ayah, nanti pelangi akan berwarna-warni, jadi kayak lagu adek di sekolah… merah kuning hijau…. di langit yang biru”, kedua tangan si kecil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Ia terus bernyanyi, menyanyikan lagu pelangi.

Empat gelas cantik berjajar di atas meja. Sang ibu menuangkan dua sendok makan susu bubuk ke tiap gelas sedang itu. Kemudian hanya dua gelas yang ditambahkan satu sendok teh gula. Sang bunda menuangkan air hangat lalu mengaduknya perlahan.
Keluarga kecil itu berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi.

“Bunda, adek mau ditambah madu”, pinta si kecil.
“Bunda, aku mau gulanya 3 sendok”, pinta si kakak ketus.
“Ayah mau ditambahkan gula?”, sang bunda menawarkan susu yang lebih manis dari biasanya kepada sang ayah, setelah memenuhi permintaan kedua putrinya itu. Walaupun sang bunda tahu, bahwa sang ayah sudah merasakan manis saat menikmati susu tanpa gula itu.
Sang Ayah menggeleng, tersenyum melihat tingkah kedua putrinya.

“Hmm enak, hangat.. manis, makasih bunda”, ucap si kecil yang belepotan susu di bibirnya.
“Bun, masih kurang manis, mau tambah satu sendok lagi”, pinta si kakak.
“Kak, memang susunya ga manis ya? Idih gulanya kok banyak sih kak, hati-hati digigit semut lho, kan semut suka sama gula”, celotah si adik meledek kakaknya.
“Biarin, bunda… jangan satu sendok, aku mau 3 sendok lagi”, si kakak meladeni guyonan sang adik.
“Nak, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik”, sang ayah mencoba meredam amarah putri tertuanya itu.

Si kakak tidak menghiraukannya, ia tetap meneguk susu itu, walau sesekali nampak terlihat sebenarnya ia menahan rasa yang memang terlalu manis. Namun ia tetap menghabiskannya, ia tidak mau si adik meledeknya lagi.

Usai sarapan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Mereka saling bertukar cerita, namun kali ini didominasi celoteh si kecil dengan harapan terbesarnya untuk melihat pelangi. Si kakak tetap dengan wajah murungnya, tingkah lucu si kecil pun tidak bisa merubah mimik gadis genap berusia 10 tahun itu.

Sebenarnya bunda paham, kalau putri tertuanya itu kecewa karena rencana bertamasya di akhir pekannya itu gagal ketika hujan turun. Dua hari sebelumnya memang sekeluarga berniat pergi ke kebun teh dan kebun buah di puncak. Namun, hujan yang turun semakin lebat, membuat moment keluarga itu tertunda.

Berbeda dengan si kecil, ia tetap antusias dengan sesuatu yang baru, harapan yang baru, dengan tidak melupakan harapan lamanya yang juga ingin bertamasya ke kebun buah. Tentu saja, melihat pelangi menjadi harapan barunya kali ini.

Hujan tak kunjung reda, hampir seharian, air istimewa itu membasahi secuil permukaan bumi. Sang bunda mengajak kedua putrinya membuat kue.

“Bunda, kali ini, mau buat kue apa?” Kedua tangan mungilnya menopang kepala, di atas kursi sembari mengayunkan kedua kakinya berirama maju mundur. Ia terus memperhatikan bunda dan kakaknya membuat kue. Sedangkan si kakak mengikuti setiap langkah membuat kue sesuai perintah bunda, mengaduk adonan perlahan. Bunda hanya tersenyum menjawab pertanyaan si kecil sambil terus membuat kue.

Usai dipanggang kue itu mulai dihias, kali ini si kecil turun tangan membantu menghias. Bunda membelah lingkaran kue tart kecil itu menjadi empat bagian. Kemudian memberikan sebuah strawberry segar di setiap potong kue.

Mereka kembali berkumpul menyantap kue buatan bunda dengan hujan yang masih setia menemani. Mereka makan dengan gaya masing-masing.
Si kecil terlebih dahulu melahap strawberry lalu diikuti memakan kue dengan gigitan tidak beraturan, ujung depan, belakang, samping, ke belakang lagi dan begitu seterusnya hingga habis.
Si kakak melahap kue terlebih dahulu, kali ini hanya dua pola gigitan, depan dan belakang. Kemudian barulah strawberry itu sebagai lahapan terakhir.

Sang ayah dan bunda hampir sama, tetap menikmati kue itu dengan gigitan teratur dari tepi depan, perlahan hingga habis. Strawberry akan dimakan ketika waktu giliran strawberry itu digigit.
“Manis?”, bunda bertanya kepada semua anggota keluarga kecilnya itu.
“Manis bunda, besok buat lagi ya bunda”, pinta si kecil girang.
“Kurang manis bunda”, si kakak tetap dengan sikap setengah kecewanya.
“Makasih bunda”, jawab sang ayah.

Keesokan harinya, bunda membuatkan kue yang sama dengan kemarin untuk bekal kedua putri dan sang ayah. Resep, ukuran dan takaran yang dibuat sama dengan kemarin, namun bedanya, bunda menambahkan 3 strawberry di potongan kue tersebut. Setibanya di rumah, sang bunda menyanyakan kepada tiap anggota keluarga kecilnya.
“Manis?”, senyum bunda selalu terurai ketika bertanya maupun mendengarkan jawaban tiap anggota keluarganya itu.
“Hmm manis bunda, besok buat lagi ya”, pinta si kecil.
‘’Sebenernya masih kurang manis bunda”, jawab si kakak sudah tidak marah lagi.
“Makasih sayang”, jawab sang ayah.
Keesokan harinya bunda kembali membuat kue yang sama dengan kemarin, untuk bekal kedua putri dan sang ayah. Resep, ukuran dan takaran yang dibuat sama dengan kemarin, tapi kali ini bunda membubuhkan 1 buah strawberry di tiap potongnya. Bunda berharap tujuannya tercapai.
“Manis?”, Bunda kembali bertanya dengan sedikit was-was.
“Hmm enak, bunda nambahin madu ya? Adek suka”, jawab si kecil.
“Hmm manis. Tapi Bun, kenapa berturut-turut bunda membuat cake strawberry lalu menanyakan kepada kami, apakah cake itu rasanya manis?”, keluh sang kakak penasaran dengan sikap bundanya.
Sang ayah menjawab pertanyaan bunda dengan mengecup kening sang bunda. Kali ini bunda tersenyum lebar.

hmm… kita lanjut ceritanya nanti… 🙂 kisah sepotong kue strawberry, mengeja denotasi dibalik manisnya sepotong kue strawberry ^^


Advertisements

2 comments on “Strawberry Shortcake

  1. anaes
    June 21, 2011

    yaaaahhhh….sya penasaran nih mbaaaakkk…
    lanjutannya kapan???

    • chocolateva
      June 21, 2011

      🙂 makasih udah berkunjung ^^ ditunggu besok insyaAllah =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 20, 2011 by in story.
June 2011
T W T F S S M
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 72,482 hits
%d bloggers like this: