Chocolateva's fruit

try to be usefull person,simplify,share,and smiled ^^

Strawberry Shortcake part II


…. Sang ayah menjawab pertanyaan bunda dengan mengecup kening sang bunda. Kali ini bunda tersenyum lebar.
Ketika berkumpul di ruang keluarga. Bunda menyajikan cake strawberry lagi dengan resep, ukuran dan takaran yang dibuat hampir sama. Tapi kali ini hanya satu strawberry di tiap potongnya.
“Bunda boleh cerita sebelum semuanya memulai makan cake strawberry ini?”, pinta bunda.
Mereka pun mengangguk setuju.
“Sebenarnya setiap kali bunda membuat cake ini, bunda menggunakan resep, takaran, dan ukuran yang sama. Ketika kakak berkata kurang manis saat memakan kue pertama, bunda tidak menambahkan gula untuk kue kedua, walau akhirnya kakak mengatakan kue strawberry yang kedua manis. Ketika adek menyangka ditambahkan madu pada kue kedua, bunda juga tidak menambahkan madu pada kue yang kedua. Bunda hanya ingin kedua putri bunda sependapat dengan kata-kata ayah dua hari yang lalu ketika kita sarapan. Ada yang ingat?”
“Oh waktu itu, kakak kan minum susu dengan gula yang buanyak. Iya kan kak?Ayah, memang ayah bilang apa?” si kecil tetap belum paham.
Sedangkan sang kakak justru kembali memperlihatkan wajah ketusnya mengingat kejadian yang membuatnya kecewa waktu itu.
“Nak, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Seingat ayah, itu perkataan ayah ketika sarapan”, jawab sang ayah bijak.
“Nak, kalau diperhatikan, strawberry yang masam itu akan mengalahkan rasa manis kue. Kue kedua dengan 1 strawberry, lebih manis dibanding kue pertama dengan 3 strawberry, padahal keduanya menggunakan resep dan takaran yang sama. Bayangkan strawberry itu bentuk keluh kesah kita. Ketika kue dimakan, semakin banyak strawberry semakin membuat rasa kue menjadi tidak manis. Sama halnya semakin banyak mengeluh maka semakin berat, mudah kecewa dan sedih dalam menghadapi hidup hingga tidak bisa menikmati indahnya hidup. Sedangkan, ketika kita sedikit mengeluh maka semakin ringan, berlapang dada dan bahagia dalam menghadapi hidup. Selalu bersyukur ya nak, hujan adalah anugerah Allah, bayangkan kalau tidak ada hujan, bumi akan tandus dan kering, kebun buah yang akan kita kunjungi akan gersang juga kan? Walau liburan kemarin kita tidak jadi pergi bertamasya, kita tetap diberi kesempatan untuk bisa berkumpul bersama keluarga, bayangkan saudara-saudara kita yang tidak punya ibu dan ayah, mereka tidak bisa bertemu ibu dan ayah mereka lagi bukan? ,” Bunda tersenyum sembari memberikan cake strawberry itu.
“Bunda, ayah, maaf… adek maaf….maafkan kakak karena tidak bersyukur”, kata si kakak menyesal telah bertindak berlebihan.
“Alhamdulillah, selalu bersyukur ya nak, ingat pesan bunda, rasul kita Muhammad SAW senantiasa hidup sederhana, selalu bersyukur dan tidak berlebihan ”, bunda tersenyum lega.
***
Usai pulang dari suatu pemakaman, dua orang mahasiswi putri memulai pembicaraan.
“Subhanallah, beliau tetap tegar dan tabah ketika mengantarkan jenazah putrinya ke pemakaman bahkan hingga dimakamkan sekalipun ia tidak menangis, hanya sesekali berkaca-kaca. Padahal sanak saudaranya dan teman-teman kita banyak yang menangis”, kata seorang mahasiswi pertama.
“Iya, alhamdulillah aku dipertemukan dengan teman seperti dia. Mudah-mudahan ia mendapatkan tempat yang lebih baik. ”, jawab mahasiswi kedua.
“Aamiin,mudah-mudahan amal ibadahnya diterima oleh Allah. Almarhum teman yang taat beribadah, sabar dan baik, jarang aku melihatnya marah atau kecewa. Dia selalu ceria, lembut dan bersemangat”, timpal mahasiswi pertama.
“Kau masih ingat sebelum kita ke rumah almarhumah, aku membelikan strawberry shortcake untuk ibu almarhumah”, kata mahasiswi kedua.
“Iya dan kamu tiba-tiba bercerita tentang kisah dua orang putri dengan strawberry shortcake buatan bundanya”, ucap mahasiswi pertama.
“Beliaulah bunda dalam cerita itu, dan almarhumah, teman kita, adalah kakak berusia 10 tahun dalam cerita itu. Almarhumah tetap mengingat pesan sang bunda semasa hidupnya. Dan Bunda pribadi yang tegar, ia akan ingat dengan kisah strawberry shortcake beliau. Beliau tetap bersyukur atas waktu yang diperkenankan Allah untuk merawat putrinya, mendidik putrinya sebagai titipan Allah”, Jawab mahasiswi kedua.
“Subhanallah, akankah ketika aku meninggal nanti akan sebanyak itu orang yang melayat dan mengantarkan jenazahku hingga ke pemakaman, akankah sebanyak itu pula yang mendoakanku, akankah aku meninggalkan pesan dan kenangan yang baik pada orang-orang disekelilingku. Dan akankah aku tersenyum ketika orang-orang menangis”, mahasiswi pertama merenung.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.”, jawab mahasiswi kedua.

Alhamdulillah,satu kisah hasil berselancar dengan imajinasi, kisah fiktif yang mungkin juga pernah terjadi entah dibelahan bumi bagian mana  sudah tertuangkan. Hmm.. selanjutnya tentang apa ya…. ^^ Mudah-mudahan bisa mencari dan menyusun kembali puzzle hati kita, tentang keberadaan orang-orang yang kita sayangi dan kita masih diperkenankan untuk menyayanginya.
Short time, it doesn’t mean fast story
Fast story, it doesn’t mean without warmth =)
Strawberry shortcake, it just a little thing to imagine something sweetly
There is hope that  we can realize where we are

Advertisements

One comment on “Strawberry Shortcake part II

  1. anaes
    June 22, 2011

    horeeee…udah selesai baca..
    bagus mbaaaakk…
    sepertinya saya mulai dapat inspirasi dari cerita-cerita mbak evaaa…hihiiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 22, 2011 by in story.
June 2011
T W T F S S M
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 74,422 hits
%d bloggers like this: