Chocolateva's fruit

try to be usefull person,simplify,share,and smiled ^^

Rafting Pekalen


Stasiun Surabaya Gubeng, kami salah satu penumpang Kereta api yang tersisa. Selamat pagi Surabaya, setelah berjam-jam kami setia di dalam kereta api, mengikuti kelokan perlintasan, melihat sejenak pemandangan, melewati beberapa stasiun dan kota, sore hingga kembali pagi.

Kaki kanan mengawali, menuruni tangga kereta. Warung nasi pecel di depan stasiun menjadi pemberhentian pertama. Kami pun melanjutkan ke tempat checkpoint berikutnya, Stasiun Pasar Turi. Angkot pertama yang kami tumpangi menghantarkan kami di tempat seperti pasar kecil. 3000 rupiah untuk ongkosnya. Di pasar itu kami sempat disapa oleh tukang becak spesial. Tukang becak yang berjajar dengan orang-orang yang seprofesi dengannya. Yah, spesial, karena beliau seorang wanita, benar-benar emansipasi wanita, seorang wanita tangguh yang tak segan menawarkan jasanya kepada kami.Senyum terlepas dari kami kepada beliau.

Angkutan kota berwarna merah menjadi sasaran mata kami, bertuliskan Indrapura. Ada yang unik dengan angkot yang juga berstiker I love SPBU Pertamina Pencindilan ini, yaitu ada sekat kaca antara supir dan penumpang di belakang. Berbeda dengan angkot di Bandung atau di Jawa yang pernah saya jumpai. Sistem angkot yang pernah saya naiki bersifat benar-benar transparan dan tradisional, maksudnya setiap akan berhenti, teriakan kami cukup menjadi sinyal, tapi angkot ini berbeda, ternyata jika ingin berhenti, kami harus menekan semacam tombol kecil yang menempel di dalam atap angkot, seperti saklar lampu. Kami bahkan tak mendengar suara apapun, namun alat itu nampak berfungsi dengan baik, seketika supir pun menghentikan angkotnya, cukup 3000 rupiah ongkosnya.

Sampailah kami di stasiun Pasar Turi, dan saya bertemu dengan teman-teman lain yang akan bergabung. Mereka kebanyakan bertolak dari Jakarta, beberapa dari Surabaya, dan dari Solo. Jadilah kami ber 33 awalnya, karena satu orang lagi, kakak senior saya akan mulai bergabung di tempat berikutnya, dan berakhir dengan ber 34 orang, 21 perempuan dan 13 laki-laki. Seru, berawal dari tidak tahu, kami pun menjadi seperti keluarga, dengan teman-teman baru, seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Cuaca yang cerah menyambut rombongan kami. Kisah Porong menyita perhatian kami, sejenak kami menyempatkan kesana ketika melintasi jalan raya Surabaya Malang. Usai dari Porong, kami melanjutkan ke desa Probolinggo.

Rencana awal, kami akan rafting di sungai Pekalen atas – Songa. Di mulai dari desa Angin-angin dan berakhir di desa Gembleng dengan jarak 12 km, kecepatan 54 Rapids dengan grade II – IV. Entahlah, ini kali pertamanya saya ikut rafting, apa itu grade, yang ada, adrenalin benar-benar terpacu ketika berkawan dengan air kala itu.

Jika benar-benar dapat rafting di Pekalen atas, kami akan disuguhi keindahan sungai dengan pemandangan yang menarik perhatian, jurang alami dan air terjun, kelelawar yang mendiami gua-gua atap pun biasanya sesekali akan muncul menemani perjalanan rafting. Katanya, point of interest nya adalah kecepatan Matador, Gua Kelelawar, air terjun dan adanya hewan langka yang akan ditemukan selama petualangan.

Namun karena termasuk sore ketika tiba di lokasi, ditambah hujan, maka debit air pun bertambah, sehingga lokasi itu tidak memungkinkan lagi, karena tantangannya menjadi tingkat dewa sangat.

Menujulah kami di Pekalen bawah – Songa. Dimulai dari desa Pesawahan dan berakhir di desa Condong dengan jarak 10 km, kecepatan 35 Rapids dengan grade II – III+. Itu pun sudah cepat menurut saya, tak bisa dibayangkan secepat apa di pekalen atas.

Tetap seru, tetap saja bagus, dan tetap saja benar-benar menjadi petualangan yang menantang. Point of interestnya ada sungai God bless, exotic jump, teriaka-teriakan “Boom”.Apa itu “Boom”?

Jadi, sebelum ke sungai, kami diantar menggunakan angkutan terbuka melewati desa kecil yang masih tradisional. Point pertama, kami memakai peralatan lengkap, helm, vest, dayung, berjalanlah kami menuju bibir sungai. Dari jembatan atas, nampak sungai lebar yang begitu indah dan deras, bergemuruh seakan memanggil kami untuk berkawan.

Beberapa perahu karet dan tim disiapkan, saya ikut di team kecil, karena perahu karet kami ideal hanya untuk 6 orang sudah dengan pemandu. Sedangkan kapal yang lain cukup untuk 8 orang sudah termasuk pemandu. Tapi perahu karet kami handal dan justru sering dijadikan pembuka jalan untuk yang lainnya.

Saya satu perahu dengan kak wirawan, kak jun, kak aldi dan 2 orang pemandu berlogat madura, tapi mereka baik dan benar-benar memperhatikan keselamatan kami. Sebelum dimulai, mereka memberikan kami beberapa instruksi, termasuk teriakan “boom” yang berarti kami harus masuk ke perahu karet, duduk di dalamnya, karena boom untuk mengamankan kita dari terjal dan loncatan arus sungai yang deras.

Beberapa perahu lain sempat terjungkir balik, perahu kak ali salah satunya. Ada beberapa post dan nama arus sungai di sepanjang perjalanan. SAlah satunya arus Malioboro, benar-benar ekstrim. Arus sungai menghantarkan kami, teriakan dorong, dayung, ke depan, maju, mundur, ke belakang dan teriakan-teriakan histeris, lepas, dan basah dengan air.

Batu besar tak jarang menghadang kami, moncong perahu pun sering menabrak batu bibir sungai, pemandangan hutan alami di sisi kanan dan kiri. Post pertama terlewati, menuju post kedua, dimana arus akan semakin liar dan deras, sesekali kami tenggelam memecah sungai, terhempas. Teriakan penumpang perahu lain terkadang membuat kami penasaran, berlomba histeria, boom, dayung, boom, maju kencang, terus dayung terus dayung.

Di akhir post kedua, kami disuguhi air kelapa muda yang baru dipatik dan jemblem. Saya biasa menyebut jemblem dengan kemplang atau klenyem, makanan manis yang digoreng dari parutan kelapa dan singkong yang di dalamnya di isi gula merah.

Perjalanan kami lanjutkan, nampak sungai semakin lebar dan berkelok, bergemuruh. Rintangan semakin menantang, apalagi kami akan melewati arus malioboro. Kata mas yang memandu, arus itu termasuk harus hati-hati, banyak wisatawan luar yang terbalik perahunya ketika melewati arus itu, sehingga dinamakan arus Malioboro.

Berhenti, usai sudah, setelah hampir 2 jam kami berkelana di sepanjang sungai. Pemandu ramah itu benar-benar bersahabat. Kapan rafting lagi? hati spontan berbinar dan bertanya-tanya.

Subhanallah, benar-benar sangat seru, alhamdulillah ya Allah. Dibalik perjalanan itu, Engkaulah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, atas diri kami, atas semua ciptaanMu.

Bromo wait us…to be continued 🙂

Advertisements

3 comments on “Rafting Pekalen

  1. rio pratomo
    February 5, 2012

    Bismillah,..
    senang bisa menjalin silaturahim dan memperatnya mbak,.
    salam ukhuwah bwt semuanya mbak,. ^_^

    Ditunggu cerita selanjutnya di BROMO,… ^_^

  2. va_a
    February 7, 2012

    iya, menambah saudara baru, insyaAllah cerita selanjutnya as soon as possible ^^ hayuks kita kapan ya rio bareng keluarga MQ =) biar semakin akrab dan bisa silaturahim lagi

  3. agustienmulyantini
    March 19, 2012

    asekk mb evo..
    🙂
    padang mb padang.. hahhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 2, 2012 by in story and tagged , , , , , , .
February 2012
T W T F S S M
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
2829  

Blog Stats

  • 73,084 hits
%d bloggers like this: