Chocolateva's fruit

try to be usefull person,simplify,share,and smiled ^^

Seikat Ilmu Setangkup Inspirasi


Bincang Edukasi bukanlah seminar formal pada umumnya, yang duduk di kursi-kursi tertata rapi lalu mendengarkan dengan seksama. Komunitas pendidikan dan jejaring edukasi ini, membawakan seminar dengan mengusung tema berdiskusi ala pedesaan. Kami duduk beralaskan karpet, berkumpul bak keluarga yang dipertemukan karena keinginan untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Ide-ide, pengalaman dan harapan-harapan pun muncul bertubi-tubi menjelma menjadi inspirasi.

Kali ini, seminar diadakan pertama kali di Bandung, tepatnya di Boeminini, Jalan Purnawarman no 70. Tempatnya teduh, khas etnik pedesaan yang tradisional dan lugu, beratapkan langit dengan sehelai jaring rumbai tipis di bawah pohon mangga, serta pelataran dengan suguhan dinding tangga kayu. Angin semilir sering menyapa kami, sesekali rintik hujan mencoba ikut bergabung. Tempat yang disarankan untuk mengadakan acara-acara keakraban ataupun buka wawasan dengan kuota yang cukup.


Sesuai namanya, selama 3 jam, kami menikmati diskusi seputar kreatifitas dan inisiatif pendidikan. Secara bergilir, pemeran-pemeran pendidikan dalam komunitas ini pun bercerita dan berbagi sepenggal kisah haru yang membawa semangat baru. Setiap pencerita diberi waktu 17 menit dengan sesi tanya jawab yang terpisah, lain lagi jika disertai dengan penampilan, seperti pencerita Cozy Street Corner, mereka pun mendapat bagian 28 menit. Ada 4 pencerita, dengan latarbelakang ide yang serupa namun tetap unik. Sekali lagi, inisiatif untuk memajukan pendidikan Indonesia, dari lingkup terdekat hingga kelak mengakar hebat.

Rumah mentari, mba Puti pun bercerita, beliau seakan membawa kami mengunjungi ruang-ruang memorinya di masa lalu. Rumah pendidikan yang terinspirasi karena patahnya semangat dan bangkitnya keinginan untuk belajar.Berawal dari latarbelakang sekolahnya yang modern dan terfasilitasi. Lulusan dengan bibit-bibit bagus, tak jarang yang melanjutkan sekolah ke luar negeri karena prestasi dan beasiswa. Di sisi lain, beliau sempat mengajar di salah satu sekolah yang tengah melewati masa-masa kritis, sekolah yang ingin dibubarkan karena jumlah murid yang sedikit, dengan keuangan sekolah yang tidak cukup mendukung, maklum, karena sekolah mandiri ini tidak terlalu memaksa murid-muridnya untuk membayar biaya sekolah, berimbas para guru pun terbiasa tidak mendapatkan gaji. Lulusan dari murid-murid dari kalangan kurang mampu ini pun tidak sesuai dengan kondisi ideal, dari 11 siswanya, didominasi dengan gagal ujian nasional. Beliau pun secara inisiatif mengajari siswa-siswanya untuk terus belajar dan belajar, disini, di Rumah Mentari. Rumah mentari tidak memungut biaya, seluruhnya benar-benar usaha bahu membahu sukarelawan untuk kelangsungan mediasi pendidikan anak-anak kurang mampu di Bandung. Dari beberapa anak didik, dari beberapa sukarelawan, hingga kini semakin bertambah. Rasa kekeluargaan terpancar hebat dari rumah mentari ini, beliau pun sesekali tak kuasa menahan tangis dalam ceritanya, kenangan indah melekat begitu hebat. Mba Puti sering membawakan materi-materinya melalui media yang kreatif, melalui cerita kertas dan pernah mengusung arpillera, yaitu seni bercerita dengan kain perca. Memang benar, gambar pun dapat bercerita.

Kenali kotamu, oleh Kandi. Sosok gadis berjiwa muda dengan semangat yang meletup-letup. Usianya sekitaran berkepala 2, Ia masih duduk di bangku kuliah, masih muda. Perawakannya kecil bak bola bekel yang siap meloncat-loncat membuncahkan ide-idenya. Kenali kotamu, komunitas yang mengajarkan untuk belajar dari lingkungan, bermain dalam belajar, belajar dalam bermain, bersama meningkatkan kepedulian
lingkungan. Tema yang ia usung adalah bagaimana memanfaatkan ruang belajar yang tak terpikirkan, berpartisipasi langsung dengan lingkup khalayak banyak dan pengeksplorasian sejak dini.Siapa sangka, dengan berjalan di pasar, anak-anak pun diajak belajar secara langsung, menghitung, berkomunikasi dan berpikir kritis memecahkan masalah yang diberi.

Cozy Street Corner, komunitas pencinta musik, yang mendidik melalui musik. Syair dan irama musik yang digubah dengan isi yang bermakna. Sasaran mereka bukanlah murid-murid, tetapi penjaga murid-murid, iya, orang tua murid beserta calon-calonnya. Mereka ingin mengembalikan kemurnian bermusik, yang kini banyak didominasi dengan karya yang hanya diperjualbelikan. Nyatanya, musik pun memiliki jiwa yang dapat menggugah hati. Lantunan yang dibawakan benar-benar imaginatif dan mengena. Empat gagasan motivasi yang selalu melekat dalam group ini, do it yourself, authenticity, apresiasi dan peran musik.Begitulah paparan dari mba anyi yang berlatar belakang pendidikan psikologi.

Pembelajaran holistik, Pak Andi dengan etnis orientalnya. Sepintas pembelajaran ini nampak tidak familiar. Memang benar, karena pembelajaran yang diterapkan di bangku-bangku sekolah kebanyakan sudah terkotak-kotak. Secara arti, holistik adalah keseluruhan, lengkap, utuh, tidak parsial dan tidak terkotak-kotak. Pembelajaran holistik berarti belajar secara utuh. Memang keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan, baik dari faktor pembawaan materi, silabus maupun kurikulum, ruang belajar, hingga pengakuan secara real dalam masyarakat. Belajar berdasarkan tema. Beliau bercerita bagaimana murid-muridnya belajar dengan tema Mesir misalnya, anak-anak pun dibawa seolah-olah berada dalam nuansa mesir, mereka diajak berpikir kritis, dengan materi yang melompat luas, mencakup sejarah, bahasa, sosiologi, matematika maupun agama. Seakan semuanya saling terkait tanpa batasan waktu yang statis, jam sekian hingga sekian belajar A lalu B lalu C dan seterusnya. Pembelajaran holistik mengedepankan pendapat dan jiwa berdiskusi dua arah.

Usai para pencerita bercerita, sesi tanya jawab pun dibuka. Lalu dilanjut dengan multivoting ide dari seluruh peserta seminar. Tiga ide terbaik yang terpilih akan diusung menjadi satu ide bersama yang akan didukung. Sebenarnya masih ada beberapa rangkaian acara lagi yang ditiadakan karena berbenturan dengan waktu, biasanya dalam bincang edukasi akan ada diskusi kelompok kecil dan besar pula, di luar acara yang sudah berjalan sebelumnya.Benar-benar warmly seminar.

Sedikit wacana, banyak anak-anak yang ingin sekali “sekolah”, yang ingin sekali belajar, namun tak sedikit yang menganggap pembelajaran itu sebagai formalitas.Pembelajaran dua arah yang sepintas tersirat dari cerita para pencerita, kelak mungkin bisa diaplikatifkan dalam pembelajaran saat ini yang mulai berkembang dengan mengurangi penyampaian materi satu arah. Membudidayakan diskusi, tukar pendapat dan saling menghargai.

Pernah suatu ketika membaca artikel dari seorang profesor yang mengajar di universitas-universitas di berbagai negara. Sang profesor memberikan pertanyaan kepada mahasiswa ditengah-tengah penyampaian materi, pertanyaan yang sama di tiap kelasnya, namun, ternyata respon berbeda didapatkannya. (Mungkin teman-teman pernah membaca artikel serupa sebelumnya)

Ketika di salah satu universitas di Inggris.
professor    : “Look outside, heavy rain fall
mahasiswa : “It’s sound good. So we can make invention to solve ….” Mereka pun asyik berdiskusi, membahas permasalahan terkait hujan untuk mencari solusi. Bahasan mereka dari berbagai sisi kemanfatan, ekonomi, lingkungan maupun sosial.

Ketika di salah satu universitas di Jepang.
professor : “Sore wa ame ga furu
Mahasiswa pun langsung keluar dan mengambil peralatan ukur untuk mengadakan penelitian curah hujan.

Ketika di salah satu universitas di Indonesia.
professor : “Lihat, hujan turun dengan deras”
mahasiswa : “Berarti kuliah dicukupkan sampai di sini Prof” ….

Teman-teman pasti punya pendapat masing-masing tentang jawaban si mahasiswa Indonesia. Atas apa yang akan dilakukan mahasiswa kita, hanya ada dua penggolongan pendapat, pemikiran positif atau negatif. Kita yang dapat merasakannya, kita yang mempunyai pendapat dan harus mempertanggung jawabkannya. Pendapat yang kita ungkapkan dalam hati, secara tidak langsung merepresentasikan diri kita atau lingkungan kita berada sekarang.

Seikat ilmu setangkup inspirasi, di mulai dari diri sendiri. Keep positive thinking. Indonesia bisa, banyak pemuda kita yang berhasil menunjukakan kiprah dan kontribusinya yang begitu menginspirasi. Apa ide teman-teman untuk pendidikan Indonesia? Kontribusi langsung senantiasa ditunggu, dimulai dari diri sendiri. Go action. Sure we can. InsyaAllah. =) Semangat kebersamaan akan senantiasa terasa 🙂

for more information : http://www.bincangedukasi.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2012
T W T F S S M
« Feb   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

  • 73,084 hits
%d bloggers like this: