Chocolateva's fruit

try to be usefull person,simplify,share,and smiled ^^

Anakku


Ketika kami belum bertemu, aku sudah membayangkan akan ada tangan kecil yang menggegam erat hanya ditangan kananku, karena sebelah tanganmu akan menggenggam erat di tangan kiri seseorang, imamku yang sekaligus akan menjadi ayahmu

Ketika kami bertemu dan bersatu, aku mulai belajar membuat gaun indah nan lucu untukmu, merajut, menjahit, memasak bahkan menata rias agar kelak aku bisa mendandanimu ketika engkau akan mengikuti karnaval di sekolah pertamamu

Dan waktu berjalan perlahan, ku nikmati setiap gerakanmu dalam perut ini, tendangan mungilmu, serta rasa mual dan rasa was-was ketika membawamu kemanapun aku pergi.

Ruang yang tak seberapa luas, mudah-mudahan menghangatkanmu, memberimu keleluasan untuk berenang dalam lautan air ketubanku.Berat tubuhmu, tak seberapa, karena rasa bahagia bertemu denganmu mengalahkan semuanya.

Sesekali usapan tangan ayahmu menyapa, membisikkan harapan agar kelak engkau menjadi orang yang berguna, seorang anak yang akan tumbuh dewasa dan mandiri, seorang anak yang akan selalu merindukan pelukan ibu bapaknya, seorang anak yang shalih dan shalihah, bahkan kami lancang berharap, agar kelak engkau dapat menyelamatkan kami di akhirat nanti.

Kami mulai merencanakan, kemana kelak engkau akan sekolah, mulai membidik sekolah-sekolah terbaik untukmu. Kami akan membiarkanmu memilih sekolah yang akan menjadi fokus belajarmu. Kami tak akan membatasimu untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Yang kami tahu hanya satu, bagaimana kami berusaha untuk memfasilitasimu, memberikanmu bekal untuk mengarungi hidup, dengan kami atau tanpa kami kelak.

Kau pun hadir di dunia ini. Tangismu adalah senyum kami. Kau tahu nak, kami akan segera dipanggil ibu dan bapak.

Darah ini mengalir melalui air susu kesukaanmu. Ikatan batin antara engkau dan aku pun mulai terjalin. Tak mengapa kami tidak tidur, tak mengapa kami harus selalu terjaga untukmu.

Tak mudah memang melakoni peran perdana menjadi orang tua. Dulu aku hanya mengurus kepentinganku. Namun tidak dengan sekarang, karena Allah menganugerahiku engkau dan imamku. Laki-laki itu bukanlah siapa-siapa awalnya, dan ikatan suci itu membuat kami bersatu, kini pun makin erat dengan keberadaanmu.

Senyum tak henti menghias wajah kami. Engkau mengajarkan kami untuk pantang menyerah. Engkau mulai belajar merangkak, berdiri, berjalan hingga berlari. Bahu membahu kami berusaha membesarkanmu, berusaha menjagamu agar engkau tetap berada di jalur terbaik.

Tak terasa, baru kemarin aku menyuapimu tiap hari. Bahkan kini engkau sudah terbiasa mengambil dan makan makananmu sendiri. Maafkan kami anakku, maafkan kami jika kami kurang memanjakanmu. Kami berusaha memberikan yang terbaik untukmu, tanpa kau minta sekalipun, doa kami selalu menyertai.

Anak-anakku, berjuanglah, bersemangatlah, bersungguh-sungguhlah. Diam kami bukan berarti kami tidak memperhatikan kalian. Kami terkadang segan untuk sekedar bertanya bagaimana keadaan kalian. Karena kami takut mengganggu kalian, karena kami percaya kalian mampu menghadapi liku-liku hadiahNya dengan baik, karena kami percaya kalian sudah berusaha sebaik mungkin.

Kami merindukanmu, anakku…
Take my hand and never let it go……

” Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”
[Al Ahqaf : 15]

Bahkan engkau tak pernah bercerita sedetail itu pada kami. Engkau tak ingin membuat kami cemas. Engkau tak ingin membebani kami. Tapi kami terkadang tak sadar selalu merepotkanmu, bapak ibu.

Cerita yang bahkan aku meraba untuk menceritakannya. Kronologis, aku mulai mengaitkan pengalamanku bersamamu dan cerita-ceritamu. Demikian dengan kami, sungguh kami pun merindukanmu.

Seperti magnet, ketika engkau memikirkan kami, kami pun akan mengingat ketika kami bersamamu. Ketika kami merindukanmu, engkau pun penangkap sinyal tercanggih di dunia ini.

Ya Rabb…
jadikan jauh ini menjadikan kami dekat
jadikan rindu ini menjadikan kami makin merinduMu

Ya Rabb, Yang Maha Pengasih. Jagalah kedua orang tua kami, sayangilah mereka, lindungilah mereka dan kumpulkanlah kami di dunia dan akhirat, dalam jannahMu.

aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 10, 2012 by in just wanna say and tagged , , , , , , .
November 2012
T W T F S S M
« Oct   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Blog Stats

  • 73,084 hits
%d bloggers like this: